Memburu Harta Karun Peninggalan Bung Karno di Bank Swiss


Kepribadian bangsa kita yang memang mempercayai dan meyakini adanya sesuatu yang “ghaib” turut menjadikan kisah perburuan harta karun Bung Karno ini menjadi semakin seru bak tayangan infotainment yang selalu membikin penasaran dengan bumbu-bumbu bombastisnya. Suatu peristiwa yang tidak utuh alias belum terkumpul dan tersambungnya kepingan cerita menjadi satu kesatuan bulat itulah yang sesuatu yang bernama : MISTERI. Ya, apapun yang belum tuntas untuk dikupas, belum nyata untuk tersentuh, belum kasat untuk dilihat dan belum lengkap untuk dipercaya akan selalu menjadi sebuah misteri kehidupan yang menarik untuk dipecahkan. Memecahkan sebuah misteri, seperti perihal adakah harta karun peninggalan Bung Karno? Berapa jumlahnya? Disimpan dimana? Kapan menyimpannya? Bagaimana cara mengambilnya? dan seterusnya bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah. Ibarat memasuki sebuah lorong gelap yang belum tentu berujung, maka Anda harus membawa bekal dan pelita sebagai penerang dalam perjalanan Anda agar selamat dan tidak tersesat. Obor pelita itu tidak saja berupa rasa penasaran yang tinggi untuk mencari kebenaran, melainkan juga dibutuhkan bekal ilmu pengetahuan, kejujuran, pengorbanan dan yang lebih penting dari itu adalah moralitas yang tinggi terhadap tujuan memecahkan misteri itu sendiri. Apakah dorongannya semata mencari kebenaran ataukah justru nafsu keserakahan, kesombongan dan kejahatan yang memotivasi kita untuk melakukan “laku” pencarian sebuah kebenaran itu? Dengan bekal pelita tersebut, mudah-mudahan kita memiliki “radar” untuk secara kritis mengolah berbagai informasi yang berseliweran di sekitar kita. Kombinasi antara sikap terbuka (open minded) dan sikap tidak mudah percaya (skeptis) terhadap pendapat orang lain, barangkali adalah seni yang perlu kita terapkan dalam menyikapi kehidupan ini. Kita boleh tidak percaya kepada klenik, mistik dan hal-hal berbau ghaib, bid’ah, kurafat dan lain sebagainya. Tetapi memang ada baiknya untuk tetap menghargai orang yang meyakini hal-hal yang tidak kita percayai. Sebab, kebenaran sejati hanya milik sang Pencipta dan Pengatur jagad raya, sementara manusia hanyalah pemungut kepingan kebenaran-kebenaran yang bisa jadi nampak berbeda satu sama lainnya, disebabkan oleh sesuatu yang masih menjadi misteri. Ya, dunia bukan saja panggung sandiwara, tetapi juga panggung misteri. Misteri tentang ada tidaknya harta karun peninggalan Bung Karno ini telah secara sporadis diwarnai oleh berbagai peristiwa penemuan benda-benda, baik secara sengaja maupun tidak, yang kemudian dikait-kaitkan sebagai peninggalan Bung Karno khususnya, dan peninggalan kekayaan nenek moyang Bangsa Indonesia pada umumnya. Berbagai informasi dan misteri yang dikumpulkan dari berbagai sumber, didapatkan beragam pengakuan dan peristiwa penemuan yang dikaitkan dengan keberadaan Harta Karun peninggalan Bung Karno, antara lain sebagai berikut : 1966-1973 Syahdan, Presiden Soeharto membentuk tim untuk melacak keberadaan Dana Revolusi zaman Sukarno. Tim yang diketuai Letjen Soerjo, Ketua Tim Pengawasan Keuangan Negara, itu berhasil menyelamatkan uang dan barang senilai US$ 9,8 juta. Tim itu juga menemukan rekening Soebandrio di Union Banques Suisses dan Schwezerische Bankgesellschaft, Bern, Swissi. 1980-an  Muncul rumor adanya dana revolusi senilai 450 juta dollar Amerika Serikat. Harta tersebut konon tersimpan di sebuah bank terkemuka di Swiss atas nama Presiden Soekarno. Simpanan yang nilainya hampir mencapai 3,9 trilyun rupiah itu menjadi polemik yang cukup lama, namun kabar itu pun hilang dengan sendirinya. Sekitar tahun 1981, Soebandrio, yang saat itu ditahan dengan tuduhan terlibat PKI, kedatangan dua tamu, Musa bin Mohamad Kasdi dan Tan Teck Hoon, di kediamannya. Kepada Soebandrio, kedua orang berkebangsaan Malaysia ini mengaku bisa mencairkan Dana Revolusi, yaitu dana yang dikumpulkan atas instruksi Bung Karno pada 1960-an. Dana itu diceritakan berada di Union Bank Swiss atas nama Soebandrio. Soebandrio pun membuatkan surat kuasa untuk mencairkan US$ 1 juta. Kepada kedua orang Malaysia tersebut dijanjikan bagian 35 persen bila dana cair. Singkat cerita, meskipun mereka sudah dua kali bolak-balik ke Swiss, tapi tak sepersen pun dana itu cair. 1982  Michel Hatcher, pemburu harta karun asal Inggris, memulai perburuan muatan kapal VOC, Geldermalsen, yang karam di perairan Riau pada 1752. Hatcher berhasil mengeruk 150 ribu barang antik dan 225 batang emas lantakan. Diilhami temuan Hatcher, pemerintah lalu membentuk panitia nasional untuk memburu harta karun. Hasilnya tak diketahui sampai sekarang. 1986 Atas usul Suhardiman, saat itu Ketua SOKSI, pemerintah membentuk Tim Operasi Teladan yagn dipimpin Marsekal Pertama Kahardiman untuk memburu Dana Revolusi. Akan tetapi yang ditemukan tim ini justru dana di Bank Indonesia sebesar US$ 550 ribu dan Rp 1,5 miliar. Selain itu, tim ini menemukan dana US$ 250 di Bank Guyerzeller Zumont, Swiss, dan US$ 250 ribu di Bank Daiwa Securities, Tokyo. 1990  Gunarjo, pendiri lembaga pendidikan Gama 81, Yogyakarta, konon menghamburkan duit hingga Rp 4 milyar untuk mencairkan simpanan Soekarno itu, dalam kurun waktu 1988-1990. Pria asal Solo ini meyakini, aset atas nama Mr. Soekarno di bank Swiss tersebut benar adanya. Dalam sertifikat UBS, tertera berat emas lantakan Soekarno mencapai 72.000 ton. Tapi, harta ini tak bisa dicairkan. ''Mereka punya aturan main yang tidak bisa ditembus,'' katanya ketika itu. Informasi emas simpanan Bung Karno itu juga menggiurkan Pujo Warno, pengusaha semen asal Jakarta. Emas versi Pujo Warno jumlahnya ''hanya'' 4,5 ton. Meski sudah bertandang ke UBS Swiss, yang diyakini sebagai tempat penyimpanan, Pujo pulang dengan tangan hampa. 1997  Kasus Romo Yoso alias Moh. Arief alias Imam Syafei, tokoh kasus Brigade X Malang yang mengaku titisan Bung Karno, lebih unik lagi. Koleksi barang keramat Soekarno milik Romo Yoso tak cuma tongkat. Selain tiga pucuk tongkat, Romo Yoso juga mengaku punya burung Garuda Emas, pedang Kiai Sengkelad, keris Nogo Sosro dan Setro Banyu, serta seabrek nama lainnya yang disebut Romo Yoso sebagai barang keramat Bung Karno. Anehnya, semua barang tersebut didapat dari hasil pertapaan Romo Yoso di gua-gua yang dianggap keramat yang berburu harta Soekarno sejak 11 tahun silamiv. 1998  Seorang perempuan bernama Lilik Sudarti mengaku punya bukti dokumen kepemilikan harta karun peninggalan Sukarno di banyak bank di Swiss. Presiden Soeharto kala itu pun antusias dan pada 21 April 1998 mengeluarkan surat penugasan kepada Lilik untuk mencari harta karun itu. Menurut Lilik, total Dana Nusantara adalah US$ 250 miliar atau senilai Rp 2.212,5 triliun (dengan kurs 1 dolar AS = Rp 8.850) yang disimpan di 21 bank di dunia. 2000 Kiai Abdul Rahman mendirikan Yayasan Ahlus Sunnah wal Jamaah (Yamisa) dan menggembar-gemborkan adanya dana peninggalan sembilan kerajaan di Nusantara di tangannya. Ia menjaring ribuan orang dihampir seluruh Indonesia. Ia menjanjikan gaji ratusan juta rupiah bagi pengurus yayasan di cabang-cabang. Tapi, sampai sekarang, Abdul Rahman belum bisa membuktikan janjinya. 2001 Presiden Abdurrahman Wahid juga ternyata percaya kepada Lilik Sudarti. Ia mengeluarkan surat penugasan kepada Lilik Sudarti dan Sekretaris Negara Djohan Effendi untuk mencairkan dana peninggalan Sukarno. Seperti kasus pemburu lainnya, tak terdengar lagi kabar dari Lilik Sudarti, yang lenyap entah kemana. Atas izin Presiden Abdurrahman Wahid, paranormal Permadi menggandeng pengusaha Harry Tanujaya dan Sudibyo Tanujaya untuk melacak Dana Revolusi. Permadi mengontak tim Spicer di Sandline International, perusahaan keamnan di London. Tapi tim dari Spicer menganggap pemerintah Indonesia tidak punya bukti kuat. Koeshartadi, seorang pengusaha asal Surabaya ini mengaku pernah memiliki tongkat berjuluk Tunggul Drajat Ndaru Puspito --tonggak lurus penopang bunga-- hasil perburuannya pada 1990. Tunggul memiliki badan dari logam warna cokelat sepanjang 40 sentimeter. Pada bagian atas, warnanya lebih muda ketimbang bawahannyav. Pemburu benda klenik itu mengklaim tongkat Tunggul-nya adalah yang asli. Menurut Koes, si Tunggul adalah tongkat komando yang pernah dipegang Mahapatih Majapahit, Gajah Mada. Asal-muasalnya, konon, dibuat Empu Barada, pembuat keris yang tersohor di era Raja Airlangga, 10 abad silam. Seterusnya, perjalanan sang tongkat kian musykil, yang tak ketemu rujukannya dari ahli sejarah. Koes berkisah bahwa sang tongkat sempat moksa --raib ke alam gaib-- sebelum tiba-tiba muncul di Blitar, Jawa Timur. Perjumpaan dengan si tongkat katanya lewat seorang warga Blitar yang tak jelas asal-usulnya. Ia membelinya dengan harga jutaan rupiah. Meski akhirnya, tongkat itu dilepas Koes, karena ia merasa tak berhak memilikinya. Namun, Koes merahasiakan pembelinya dan besarnya ''mas kawin'' pengganti tongkat. 2002 Menteri Agama Said Agil Al Munawar memimpin penggalian di sekitar Prasasti Batutulis, Bogor. Said Agil rupanya percaya kepada “orang pintar” yang membisikkan adanya harta karun peninggalan Kerajaan Pajajaran di bawah prasasti itu. Harta tak ditemukan. Said Agil dicaci banyak orang karena keputusannya tersebut. 2003  Seonuso Goroyo Soekarno alias satria piningit alias suwito mengaku dapat mengangkat peninggalan Presiden Sukarnovi. Bentuknya berupa ratusan keping emas lantakan, platinum, sertifikat deposito obligasi garansi, dan lain-lain. Masing-masing emas lantakan itu beratnya 8 ons bergambar Soekarno dan di baliknya ada gambar padi dan kapas. Pada satu sisinya ada tulisan 80 24K 9999. Sementara itu emas putih (platinum) juga berbentuk lantakan berlogo tapal kuda putih bertulisan JM Mathey London. Logam itu dibungkus emas dan bersertifikat emas pula. Peninggalan lain berupa sertifikat deposito bertanggal 16 Agustus 1945 yang dikeluarkan oleh BPUPKI yang menyebut sejumlah harta yang disimpan di suatu tempat. Ada pula sertifikat berbahasa Inggris yang juga disegel dan ditulis di atas lembar kuningan. Sertifikat itu ada yang bertuliskan ''Hibah Substitusi'' yang dipercayakan kepada R Edi Tirwata Dinata (108) dan lantas memberikan kuasa kepada R Anton Hartono untuk mengurus harta benda yang disimpan di Swiss. Bentuknya mikrofilm, dua lembar dokumen, anak kunci boks deposit di JBS, Jenewa, dan dua buah koin. Di dalam sertifikat itu disebutkan, ada dana berjumlah 126,2 miliar dolar AS dan 63,10 miliar dolar AS. Dia menceritakan proses pencarian harta tersebut. Diawali dari kebiasaannya bertirakat di berbagai tempat, lantas mendapatkan petunjuk. Petunjuk awal adalah sebuah tongkat wasiat yang diyakini tongkat komando milik Presiden Soekarno yang kemudian disimpannya hingga kini. Selanjutnya, dengan tirakat pula, secara gaib harta benda itu bisa diangkat dari beberapa daerah di Bali, Jawa Tengah, dan Sumatera Selatan. ''Meskipun benda ini kini nyata, tapi awalnya adalah harta gaib. Jadi, mengambilnya juga dengan cara gaib. Saya tidak boleh memilikinya. Saya diperintahkan menyerahkan kepada negara untuk menyelamatkan bangsa,'' paparnya. 2003 Seorang Sultan dari Kerajaan Zulu di Filipina, Sultan Maulana Jamilul Kiram III dan seorang warga Brunei yang sudah mengeluarkan uang puluhan juta sudah tertipu mentah-mentah kelompok Suparman asal Klaten. Dia dijanjikan akan mendapat warisan 10 ton emas lengkap dengan surat-suratnya. Namun semua itu ternyata palsu. 2004  Rahmawati, wanita asal Jakarta, menggali harta karun di dalam kawasan Kebun Raya Bogor. Rahmawati mendasarkan keyakinannya tentang harta karun dikawasan itu atas dasar bisikan gaib. Atas bisikan itu, Rahmawati memperkirakan terdapat emas lantakan dan peta harta karun di sekitar kawasan yang digalinya. Namun ia harus berurusan dengan polisi, karena dianggap melanggar areal yang dilindungi hukum. 2005 Ratusan warga Sleman, Kulonprogo, Purworejo dan Magelang digaet dengan cara masuk sebuah yayasan amal yang dijanjikan akan mendapat hibah harta karun Soekarno yang masih tersimpan di luar negeri. Asmo Suwito (80), warga Dusun Gergunung Desa Sendangsari Kecamatan Pengasih. Kakek ini mengaku mendapat harta karun sebanyak 40 batang emas lantakan beserta surat-suratnya. Harta karun itu katanya didapatkan secara gaib. Asmo mengaku mendapat emas batangan bergambar lambang Verenigde Oostindische Compagnie (VOC) dengan berbagai ukuran. Barang itu dilengkapi surat-surat tanda keabsahan dari Union Bank of Switzerland. Emas batangan yang dimiliki Asmo itu sebagian besar berukuran sebesar bungkus rokok dengan berat sekitar 500 gram. Sebagian lagi berukuran lebih kecil sebesar korek api. Namun ketika dibandingkan dengan uang benggol dari tembaga zaman Hindia Belanda berbeda sekali. Uang zaman Belanda ada gambar mahkota lengkap dengan tulisan Vereenigde Oostindische Compagnie serta tahun pembuatan. Sedangkan emas milik Asmo bertuliskan VOC, ada lambang padi kapas, gambar Soekarno pakai peci dan tulisan 999 yang menunjukkan kadar karat emas. 2007  Ukurannya memang tidak lebih dari ukuran bungkus rokok. Beratnya juga hanya sekitar 0,5 kilogram. Namun, penampilannya dan nilai yang terkandung dari benda ini, bisa membuat banyak orang tergiur untuk mendapatkannya. Apalagi, nilai sejarahnya pun diduga akan ikut menaikkan harga benda tersebut. Di bagian penampangnya, terukir gambar lelaki dengan kopiah dan nama yang tertulis di bawahnya tidak asing lagi, “Ir. Soekarno”. Presiden RI pertama. Bahkan, di sisi kanan dan kirinya menempel tulisan “GOLD” dan “24 KARAT”. Itulah benda yang ditemukan Duki (40). Warga Desa Kalihurip Kec. Cikampek Kab. Karawang tersebut yang menemukan emas batangan itu. Tepatnya, Kamis (24/7) lalu, ia menemukannya ketika meratakan tanah yang letaknya bersebelahan dengan gerbang tol Kalihurip 2. Di lahan tersebut rencananya akan dibangun mushala. Ia menemukannya waktu mencangkul. Dalam galiannya sekitar 75 sentimeter. Ia meratakan lahan itu karena disuruh oleh Nuriyan, seorang pengurus pusaka dari Cirebon. Bersama Amil Kasim dan Salim, Duki menyelesaikan perataan lahan, yang semula kawasan itu disebut Sumur Dua karena ada dua sumur yang menjadi sumber mata air dan tidak terurus. 2010 Seorang warga bernama Piagam Dg Ledeng (60 tahun) dari kampong Bulo-Bulo, Dusun Batujala. Desa Bulusuka Jeneponto, Sulawesi Selatan mengaku menyimpan harta karun bernilai triliunan rupiahix. Ia juga memiliki dua buah pedang jenis samurai hand roll warna kunig buatan tahun 1013 dengan panjang 80 cm, dan pedang sabuk samurai buatan 1718 dengan panjang lebih kurang 1,5 meter. Pada gagang kedua samurai tersebut terdapat mustika batu giok. Selain itu ada juga keris kuno yang dapat berdiri tegak saat dikeluarkan dari sarungnya dan diletakkan di atas meja. Piagam juga memiliki tiga peti beirisi mata uang cruzeiro Brazil tahun 1964 dengan jumlah 480 ikat. Setiap ikat terdiri dari 500 lembar dengan pecahan 5.000. Di dalam peti uang itu juga terdapat sertifikat deposito dari Bank Swiss yang ditandatangani Bung Karno. Konon logam emas di dalam peti itu telah diuji dan dinyatakan asli dengan kadar 24 karat. 2011  Dari Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara. Seorang kakek mengaku memiliki sejumlah emas batangan dan surat berharga kekayaan Republik Indonesia. Benda berharga itu, diakui si kakek, tersimpan di sebuah bank di Swiss. Zakaria Sukaria Pota, nama kakek itu, mengaku kini berusia 126 tahun. Bagi warga Sulawesi Utara, nama Zakaria Sukaria Pota berarti 'Berubah-ubah Wajah'. Agar orang percaya, Zakaria menunjukkan pedang dan pisau emas dan empat emas batangan. Diperlihatkan pula tongkat komando, yang menurut Zakaria, milik mendiang Presiden Soekarno. Tak hanya itu, Zakaria mengklaim memiliki obligasi yang dicap Garuda dengan tinta emas. Nilainya? Jangan kaget, menurut Zakaria, mencapai triliunan rupiah. Surat berharga itu siap dicairkan di sebuah bank internasional. Obligasi tersebut tersimpan di pedang sepanjang dua meter berbahan emas. Si kakek sendiri mengaku mendapat kuasa Sang Proklamator untuk mencairkan uang di bank di Swiss supaya diberikan kepada negara. Zakaria bersedia menunjukkan harta karun lain berupa batangan emas, logam mulia, dan senjata. Semua benda berharga itu merupakan peninggalan Jepang. Zakaria mengaku pernah menghuni Istana zaman Soekarno. Selain tongkat komando, Zakaria mengaku menyimpan baju panglima Soekarno dan tusuk konde Ibu Fatmawati, istri Soekarno. Belum lagi keris, batangan emas, dan telur. Informasi di atas barangkali hanyalah sedikit dari demikian banyak cerita lain yang beredar di tengah masyarakat Indonesia. Bahkan, mungkin di sekitar kehidupan pembaca sekalian juga pernah mendengar cerita-cerita yang serupa. Seperti halnya berbagai informasi misterius lainnya, ending dari cerita-cerita semacam ini memang selalu mengundang tanda tanya yang lebih besar daripada pertanyaan tentang otentitas (keaslian) benda-benda yang ditemukan tersebut. Berapa jumlah dan nilai pasti dari harta karun yang dimaksudkan oleh para penemu dan pemburu itu pun berbeda satu sama lain. Belum lagi dengan jenis benda-benda, lokasi tertimbunnya hingga cara mengambilnya yang berbeda versi antara satu orang dengan orang lainnya. Mirip seperti dalam film-film tentang perburuan harta terpendam seperti serial Indiana Jones atau Tomb Raider misalnya, bahwa informasi keberadaan harta karun semacam ini juga mengundang rasa penasaran dan barangkali keserakahan orang-orang, mulai dari orang biasa yang ingin kaya mendadak maupun mereka orang-orang berharta dan para penguasa yang tergiur dengannya. Penemuan secara kebetulan malahan sering terjadi oleh mereka orang-orang biasa yang tidak pernah menyangka sebelumnya akan menemukan benda-benda berbau harta karun peninggalan masa lalu. Adapun benda-benda temuan tersebut seringkali bergambar Bung Karno dengan tulisan-tulisan yang menandakan suatu masa tertentu. Itulah yang kemudian juga semakin menguatkan keyakinan dari mereka yang percaya bahwa Bung Karno secara diam-diam memang menyimpan sesuatu yang bernilai dari dan di bumi Nusantara ini. Untuk mendapatkan harta karun tersebut, setiap pemburu ternyata juga menghadapi resiko dan pengorbanan yang tidak kecil. Mulai dari biaya, reputasi, kepercayaan, tenaga untuk melakukan tirakat dan ritual, hingga jabatan dan keselamatan jiwa raga pun mereka pertaruhkan, sadar ataupun tidak sadar. Kasus Contoh paling kentara adalah seperti yang menimpa Menteri Agama di era Presiden Megawati, Said Aqil Al Munawar, yang harus menerima protes keras dari masyarakat karena telah dianggap merusak situs purbakala bersejarah. Ia melakukan penggalian harta karun peninggalan kerajaan Pajajaran yang terpendam di sekitar prasasti Batutulis, Bogor. Ternyata harta karun yang dimaksudkan tidak ditemukan. Alhasil, sang menteri pun harus menelan malu dan tercoreng nama baiknya di depan publik. Berkaca dari hal tersebut, maka pergerakan individu maupun kelompok-kelompok pemburu setia harta karun itu kemudian lebih suka beraktivitas secara diam-diam (silent). Kecuali mereka yang memang sengaja mencari sensasi, ketenaran, dan kepopuleran saja yang suka berbuat heboh agar numpang terkenal lewat isu harta karun bung karno ini. Nama Bung Karno memang demikian populer dan mudah untuk “dijual”. Terbukti sekalipun cerita-cerita di atas tidak masuk akal, tetap saja banyak orang yang percaya dan rela begitu saja tenggelam dalam buaian janji-janji yang tidak pernah pasti ujungnya. Bahkan, jauh sebelum heboh soal harta karun tersebut, pada tahun 1948, Bung Karno juga pernah dinobatkan sebagai Nabi oleh sebuah aliran kebatinan yang bernama Adari (Agama Djawa Asli Republik Indonesia). Ajaran Adari ini adalah tentang kesatuan antara Tuhan dan Manusia (manunggaling kawulo gusti). Pendirinya, Mangun Suwito alian Mangun Wijaya alias Djojowulu mengatakan bahwa Bung Karno adalah titisan Gusti dan diangkat menjadi Nabi tanpa sepengetahuan Bung Karno sendiri. Sedemikian dahsyatnya nama Bung Karno, sampai-sampai orang harus “mengaku-ngaku” dulu sebagai titisan Soekarno agar mendapatkan pengikut. Seperti juga yang dipraktekkan oleh pemimpin ajaran Satrio Piningit yang bernama. Weteng Buwono alias Agus Iman Solihin alias Agus Noto Soekarnoputro. Pada tahun 1999, ia mengaku sebagai titisan Bung Karno. Di depan pengikut-pengikutnya, Ia mengajarkan masalah hakekat dan tidak mengajarkan syariat, misalnya tidak perlu melakukan ibadah sholat, cukup mengingat Tuhan saja. Selain itu beredar kabar bahwa aliran ini juga pernah mengadakan ritual hubungan seksual di hadapan sang pemimpin. Entahlah, yang jelas nama Bung Karno dicatut begitu saja dan digunakan dengan tidak begitu hormat untuk kepentingan-kepentingan yang justru meresahkan masyarakat. Kembali pada klaim harta karun Bung Karno, berbagai kisah para pemburu di atas barangkali dapat menjadi pelajaran bagi kita semua agar secara bijak menelaah berbagai informasi yang ada. Biasanya mereka yang menjadi korban penipuan berkedok harta karun Bung Karno disebabkan oleh beberapa faktor atau kondisi, seperti : kepepet butuh uang, diajak orang dekat (seperti keluarga atau penasehat spiritualnya), anggota aliran kebatinan, ingin kaya mendadak, pengangguran, pernah berdinas di militer dan biasa mencari pusaka-pusaka untuk tambahan kekuatan/kekebalan), mereka yang terlalu percaya pada mimpi, dan mungkin mereka yang tidak pernah benar-benar mengenal Bung Karno dengan segala karya, gagasan dan ajarannya yang tertuang dalam ratusan tulisan maupun pidato-pidatonya. Jika kita mau meluangkan waktu sejenak untuk membaca dengan baik karya-karya intelektual beliau, barangkali pikiran untuk berburu harta karun “material” itu tidak akan pernah terbesit sedikit pun. Karena harta karun Bung Karno itu sejatinya sudah ada di dalam diri kita, hanya saja kita tidak pernah membangkitkannya. Tidak pernah menyadarinya. Sampai saat ini, harta milik soekarno untuk negara masih belum bisa dicairkan. Entah kenapa, mungkin Allah SWT belum mengizinkan harta itu dicairkan karena masih banyak pejabat yang korupsi di negara ini. Tar-infoglobal

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Memburu Harta Karun Peninggalan Bung Karno di Bank Swiss"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel